Bak Kut Teh Singapura: 3 Gaya Kuah, 6 Kedai MICHELIN, Harga, Jam Buka, dan Soal Halalnya
| Bahan dasarnya | Kuahnya direbus dari tulang iga babi, dan tidak ada versi arus utama yang mengganti bahan itu. |
|---|---|
| Teh yang tidak ada di kuah | Kata teh pada namanya menunjuk teh Cina yang diminum bersama mangkuknya, bukan bahan rebusannya. |
| Tiga gaya | Hokkien, Kanton, dan Teochew memakai satu nama yang sama dengan warna kuah dan kadar rempah yang jauh berbeda. |
| Daftar MICHELIN 2026 | Dari 307 tempat dalam seleksi Singapura, 6 menyajikan hidangan ini dan tidak satu pun berbintang. |
| Setengahnya jauh dari pusat | Tiga dari enam alamat itu berada di kawasan Jurong di sisi barat, di luar rute wisata yang biasa. |
| Kisaran harga | Daftar pesanan daring salah satu kedai lama memasang semangkuk iga andalannya pada 10,20 dolar Singapura. |
1. Semangkuk iga babi yang namanya menyebut teh
2. Tiga gaya yang berbagi satu nama
3. Enam kedai dalam seleksi MICHELIN Guide Singapore
4. Setengah dari daftar itu berada di Jurong
5. Dua alamat yang masuk akal dari rute wisata biasa
6. Song Fa punya 16 gerai, hanya 2 yang buka pagi
7. Nama besar yang tidak ada dalam daftar
8. Berapa harganya, dan apa yang sebenarnya dicatat
9. Yang datang bersama mangkuknya
10. Soal tehnya
11. Versi tanpa babi dan soal halal
12. Bak kut teh kering
13. Perdebatan asal-usul dengan Malaysia
14. Kapan datang, dan kapan pintunya tertutup
15. Menaruhnya dalam rencana perjalanan
16. Bedanya dengan yang dimakan di Jakarta

1. Semangkuk iga babi yang namanya menyebut teh
Bak kut teh adalah sup iga babi. Kuahnya direbus berjam-jam bersama bawang putih dan rempah, lalu disendok panas-panas ke mangkuk kecil dan dimakan bersama nasi putih yang datang terpisah. Nama itu berasal dari dialek Hokkien. Dalam bahasa Mandarin hidangan yang sama disebut rou gu cha, dan tiga aksaranya, 肉骨茶, kalau dibaca satu per satu berarti daging, tulang, teh.
Tidak ada teh di dalam kuahnya
Keterangan resmi National Heritage Board menyebutnya tanpa berputar: meski ada kata teh pada namanya, tidak ada teh di dalam masakan itu. Kata tersebut menunjuk teh Cina yang diminum bersama mangkuknya. Nama hidangan ini menamai kebiasaan di meja. Isi pancinya sendiri tidak pernah bersentuhan dengan daun teh.
Kebiasaan itu punya alasan yang diwariskan turun-temurun. Teh dianggap meluruhkan minyak dan lemak yang tertinggal di mulut setelah kuah berlemak, sehingga secangkir teh panas hampir selalu berdiri di sebelah mangkuk. Teh yang dituang pun bukan teh sembarangan, karena di Singapura ada toko yang meraciknya khusus untuk pasangan itu.
Lima bahan yang membentuk aromanya
National Heritage Board menyebut bunga lawang, kayu manis, cengkih, biji adas, dan bawang putih sebagai bahan yang direbus berjam-jam bersama tulangnya. Susunan itu yang membuat uap dari mangkuknya berbau hangat sebelum sendok pertama masuk. Berapa banyak masing-masing bahan dipakai adalah hal yang membedakan satu kedai dengan kedai sebelahnya, dan tidak ada kedai yang membuka takarannya.
Satu porsi dasar terdiri atas mangkuk berisi kuah dengan dua sampai tiga potong iga, ditambah siung bawang putih utuh yang ikut terebus sampai lunak. Nasi putih datang di mangkuk sendiri. Potongan you tiao, roti goreng yang dijual per potong, biasanya dipesan untuk dicelupkan ke kuah.
Asalnya bukan dari Singapura. Menurut catatan Perpustakaan Nasional Singapura yang ditulis Damien Lim, hidangan ini berakar di Provinsi Fujian dan dibawa perantau Hokkien ke kawasan ini pada abad ke-19, lalu menyebar sebagai sarapan para kuli. Situs resmi Ng Ah SioPeta menceritakan versi setempat dari asal-usul yang sama: kuli yang bekerja di gudang tepi Sungai Singapura tidak sanggup membeli daging, sehingga mereka merebus tulang yang tersisa.

2. Tiga gaya yang berbagi satu nama
Kalau dua orang bertengkar soal rasa bak kut teh yang benar, biasanya keduanya sedang membicarakan mangkuk yang berbeda. Perpustakaan Nasional Singapura mencatat tiga varian tradisional, dan ketiganya sah memakai nama yang sama. Warna kuah adalah petunjuk paling cepat, tetapi bukan satu-satunya.
| Gaya | Warna kuah | Kadar asin | Rempah | Ciri pembeda |
|---|---|---|---|---|
| Teochew | Bening, cokelat muda | Paling ringan | Nyaris tanpa rempah obat | Dibumbui bawang putih, kecap, dan lada saja; buihnya dibuang selama merebus |
| Hokkien | Pekat, keruh, cokelat tua | Paling asin | Beberapa jenis rempah obat Cina | Memakai gula batu dan kecap asin pekat dalam jumlah banyak |
| Kanton | Gelap, lebih kental daripada Teochew | Di bawah Hokkien | Paling banyak rempah obat | Ditambah jamur kancing, sawi putih, dan tahu kering |
Teochew: bening, bawang putih, lada
Versi Teochew adalah yang paling sering ditemui wisatawan di Singapura. Kuahnya bening dan ringan karena hanya dibumbui bawang putih, kecap, dan lada, lalu buih yang naik dibuang berulang selama perebusan. Hasilnya cairan cokelat muda dengan rasa bawang dan lada yang menonjol, cukup tajam sampai membuat orang menyeruput sedikit demi sedikit.
Ketajaman itu datang dari lada, bukan dari cabai. Perbedaannya terasa di tenggorokan, bukan di lidah, dan hilang lebih cepat daripada pedas cabai. Karena itu mangkuk Teochew jarang terasa berat meski dimakan pagi-pagi.
Hokkien: gelap dan lebih asin
Versi Hokkien berjalan ke arah yang berlawanan. Kuahnya direbus dengan gula batu dan beberapa jenis rempah obat Cina, lalu diberi kecap asin pekat dalam jumlah banyak sampai warnanya cokelat tua dan agak keruh. Rasanya lebih asin daripada dua varian lain, dengan sisa manis di ujung yang datang dari gula batunya.
Warna gelap itulah yang biasanya mengejutkan orang yang datang dengan bayangan kuah bening. Mangkuk hitam berisi kuah pekat, dikelilingi semangkuk nasi putih, semangkuk potongan you tiao, piring kecil kecap, serta sebotol bir dan gelasnya, adalah susunan meja yang biasa untuk versi gelap ini.
Kanton: paling banyak rempah obat
Versi Kanton memakai rempah obat paling banyak di antara ketiganya, tetapi tidak seasin versi Hokkien. Pembedanya juga ada pada isian. Jamur kancing, sawi putih, dan tahu kering ikut masuk ke panci bersama tulangnya. Karena itu satu porsinya terasa lebih mirip sup rumahan daripada hidangan lapak.
Kuah bening, rasa bawang putih dan lada, buih dibuang saat merebus.
Kuah cokelat tua dan keruh, gula batu dan kecap pekat, paling asin.
Rempah obat paling banyak, ditambah jamur kancing, sawi putih, dan tahu kering.
Di Singapura ketiganya tidak berdiri terpisah rapi. Beberapa kios memakai nama gaya tertentu pada papannya, sebagian lagi tidak menyebut apa-apa dan membiarkan warna kuahnya bicara. Cara paling murah untuk mengetahuinya adalah melihat mangkuk di meja sebelah sebelum memesan, kebiasaan yang juga berlaku untuk hampir semua lapak di pusat jajan Singapura.

3. Enam kedai dalam seleksi MICHELIN Guide Singapore
Seleksi MICHELIN Guide Singapore edisi 2026 memuat 307 tempat makan. Enam di antaranya menyajikan bak kut teh, dan penilaian untuk keenamnya diterbitkan pada 4 Agustus 2026. Tidak satu pun dari keenam alamat itu berbintang.
| Kedai | Penghargaan | Kawasan | Kisaran harga |
|---|---|---|---|
| Song FaPeta Bak Kut TehPeta (New Bridge Road) | Bib Gourmand | New Bridge Road, kawasan Chinatown | $ |
| Sin Heng Claypot Bak Koot TehPeta | Bib Gourmand | Joo ChiatPeta Road | $$ |
| Joo Siah Bak Koot TehPeta | Bib Gourmand | Jurong EastPeta Avenue 1 | $ |
| Hua Xing Bak Kut TehPeta | Selected | Yuhua Market and Hawker CentrePeta, Jurong East | $ |
| Yong Kee Claypot Bak Kut TehPeta | Selected | Taman Jurong Market and Food CentrePeta | $ |
| Leon Kee Claypot Pork Rib SoupPeta | Selected | Alexandra Village Food CentrePeta, Bukit Merah | $ |
Tiga Bib Gourmand, tiga Selected
Pembagiannya rata. Tiga nama masuk Bib Gourmand, tanda untuk tempat makan yang dianggap memberi nilai sepadan dengan harganya, dan tiga nama lagi berhenti di kategori Selected. Jarak antara dua kategori itu adalah urutan catatan inspektur. Tidak ada selisih rasa yang bisa dihitung di antaranya. Pembaca yang hanya punya satu kesempatan makan biasanya mendahulukan yang Bib Gourmand karena alasan praktis saja.
Kalau yang dicari adalah ruang makan formal dengan menu bertahap, daftar ini bukan tempatnya. Untuk itu ada restoran berbintang di Singapura yang berdiri di kategori yang sepenuhnya lain. Bak kut teh tidak pernah masuk ke sana sampai sekarang.
Apa yang tercatat dan apa yang tidak
Keenam kedai itu sama-sama tidak menerima pemesanan tempat. Nomor telepon hanya tercantum untuk dua di antaranya, yaitu Song Fa dan Sin Heng, sedangkan empat alamat lain tidak mempublikasikan nomor sama sekali. Jam buka pun hanya dimuat untuk satu alamat, yaitu Hua Xing, yang tutup setiap Senin dan bekerja pukul 08.30 sampai 14.00 pada hari lain.
Klasifikasi jenis masakannya juga terbelah. Song Fa dan Sin Heng dicatat sebagai masakan Singapura, sementara empat sisanya dicatat sebagai Street Food karena memang berdiri sebagai kios di dalam pasar atau pusat jajan. Perbedaan itu terasa langsung pada cara duduk, cara membayar, dan cara mengembalikan nampan.
Nama yang tidak menyebut bak kut teh
Satu dari enam nama itu tidak memakai kata bak kut teh sama sekali: Leon Kee Claypot Pork Rib Soup, yang menulis isinya, sup iga babi, langsung pada papannya. Catatan inspektur untuk kedai itu menyebut sup iga yang dimasak dengan rempah obat Cina sebagai andalannya, ditambah sup ekor babi, ayam minyak wijen, dan hati babi dalam pot tanah.
Tiga nama lain justru memakai kata claypot, yaitu Sin Heng, Yong Kee, dan Leon Kee. Pot tanah itu bukan hiasan meja: kuahnya sampai ke meja dalam keadaan masih mendidih pelan dan tetap panas lebih lama. Catatan inspektur untuk Yong Kee menyebut sup iga yang disajikan dalam pot tanah bersama pelengkap seperti butiran lada, dan menilai versi rempah obatnya terasa jelas tanpa berlebihan.
4. Setengah dari daftar itu berada di Jurong
Hal yang jarang disebut ketika daftar ini dikutip: 3 dari 6 alamatnya berada di kawasan Jurong, di sisi barat Singapura, jauh dari jalur yang biasa dilewati wisatawan antara Marina Bay, Chinatown, dan SentosaPeta. Joo Siah dan Hua Xing berdiri di Jurong East Avenue 1, sedangkan Yong Kee berada di Taman Jurong Market and Food Centre di Yung Sheng Road.
Dua alamat yang hanya berbeda satu blok
Joo Siah menempati Blok 349 dan Hua Xing berada di Blok 347, keduanya di jalan yang sama. Jarak antara dua titik itu sekitar 80 meter, jadi keduanya bisa dilihat dalam satu kali berjalan kaki. Kalau satu tutup, yang lain ada di ujung blok sebelah.
Meski begitu keduanya tidak bisa dianggap saling menggantikan. Catatan inspektur untuk Joo Siah menyebut bak kut teh berasa lada sebagai andalannya, dengan iga yang lunak dan kecap cabai sebagai cocolan, serta jam tutup yang lebih awal pada hari Minggu. Catatan untuk Hua Xing menyebut kuah berlada kuat dan iga yang harum, dengan tambahan nasi, jeroan babi, kaki babi, atau sup sayur untuk melengkapinya menjadi satu porsi makan penuh.
Kios pasar, bukan restoran
Hua Xing berada di dalam Yuhua Market and Hawker Centre, dan Yong Kee di lantai dua Taman Jurong Market and Food Centre. Gedung seperti itu berfungsi sebagai pasar basah sekaligus tempat makan, sehingga jam sibuknya mengikuti jam belanja penghuni sekitar, bukan jam wisata. Cara memesan, membayar tunai, dan mencari meja kosong di sana sama dengan yang berlaku di pusat jajan mana pun di Singapura.
Konsekuensi paling nyata ada pada jam. Kios Hua Xing bekerja pukul 08.30 sampai 14.00 dan tutup setiap Senin, yang berarti kios itu selesai bekerja sebelum sebagian wisatawan selesai makan siang. Untuk empat alamat lain, jam buka tidak dipublikasikan di sumber resmi mana pun yang bisa diperiksa, jadi menebak jamnya sendiri adalah cara tercepat untuk sampai di depan pintu yang sudah tutup.
Alamat keenam berada di tempat yang berbeda lagi. Leon Kee menempati Alexandra Village Food Centre di Bukit Merah, yang letaknya di antara pusat kota dan Jurong. Gedung itu juga yang muncul di foto dengan papan pengembalian nampan bertanda non-halal.

5. Dua alamat yang masuk akal dari rute wisata biasa
Untuk perjalanan tiga sampai lima hari yang isinya sudah padat, hanya dua dari enam alamat itu yang tidak menuntut perjalanan khusus. Song Fa berada di 11 New Bridge Road, jalan besar yang melewati kawasan Chinatown. Sin Heng berada di 439 Joo Chiat Road, di deretan rumah toko tua di sisi timur.
New Bridge Road
Cabang inilah satu-satunya gerai Song Fa yang mendapat Bib Gourmand. Situs resminya menulis bahwa penghargaan tahun ini adalah yang kesepuluh berturut-turut untuk alamat tersebut. Cabang ini juga salah satu dari dua gerai Song Fa yang buka pagi, yaitu pukul 09.30 setiap hari, sehingga bisa dipasang sebelum jadwal jalan kaki di kawasan Chinatown dimulai.
Ada satu hal kecil yang perlu disebut karena bisa membingungkan saat mencari alamatnya. Dua sumber resmi menulis kode pos yang berbeda untuk gerai yang sama: MICHELIN mencatat 059386, sedangkan situs Song Fa sendiri mencatat 059383. Nomor jalan dan nama jalannya sama, jadi yang dipakai untuk mencari sebaiknya nomor 11 dan nama jalannya, bukan kode posnya.
Joo Chiat Road
Sin Heng adalah satu-satunya dari enam alamat yang diberi dua tanda dolar, artinya kisaran harganya berada di atas lima alamat lain. Catatan inspektur menyebutnya kedai sederhana yang sudah berjalan lebih dari 40 tahun dan kini dijalankan pemilik generasi kedua, dengan andalan bak kut teh berlada dan bawang putih yang disajikan dalam pot tanah.
Letaknya membuat kedai ini mudah digabungkan dengan setengah hari di Katong dan Joo Chiat, kawasan yang isinya rumah toko berwarna, kue lapis, dan laksa. Sama seperti lima alamat lain, Sin Heng tidak menerima pemesanan tempat, meski nomor teleponnya termasuk yang dipublikasikan.
Kalau dibandingkan, dua alamat ini menawarkan dua situasi makan yang berlainan. Yang satu berupa gerai merek besar dengan pelayan berseragam di jalan ramai, yang satu lagi kedai kecil berumur puluhan tahun di jalan perumahan. Keduanya menyajikan gaya kuah yang bening dan berlada. Perbedaan terbesarnya jatuh pada suasana ruangan dan panjang antrean.
6. Song Fa punya 16 gerai, hanya 2 yang buka pagi
Song Fa mendaftar 16 gerai di Singapura pada situs resminya, tersebar dari Somerset, VivoCityPeta, dan Suntec City sampai Northpoint City dan Waterway Point. Angka itu membuatnya mudah ditemui di hampir setiap pusat perbelanjaan besar. Tetapi hanya 2 gerai yang membuka pintu sebelum pukul 10.00.
| Kelompok gerai | Jam buka | Catatan |
|---|---|---|
| Jewel ChangiPeta AirportPeta | Pukul 09.00 sampai 21.30 setiap hari | Gerai paling pagi dari seluruh jaringan |
| 11 New Bridge Road | Pukul 09.30 sampai 21.30 setiap hari | Satu-satunya gerai yang mendapat Bib Gourmand |
| 14 gerai lainnya | Buka pukul 11.00 pada Senin sampai Jumat, pukul 10.30 pada Sabtu, Minggu, dan hari libur | Tutup pukul 21.30 pada Jumat dan Sabtu, pukul 21.00 pada hari lain |
Sarapan yang berubah jadi makan siang
Ada jarak yang lucu antara sejarah dan jadwal. Hidangan ini menyebar sebagai sarapan para kuli menurut catatan Perpustakaan Nasional, tetapi hari ini mayoritas gerai merek terbesarnya baru menyalakan lampu menjelang tengah hari. Pembaca yang ingin memakannya pada jam yang sesuai asalnya praktis hanya punya dua pilihan di jaringan ini.
Pilihan lain ada di pusat jajan. Kios Hua Xing di Jurong East bekerja pukul 08.30 sampai 14.00, jadwal yang justru mengikuti pola lama, meski letaknya jauh dari hotel kebanyakan. Gabungan keduanya membuat bak kut teh masuk daftar hal yang bisa dikerjakan saat pagi-pagi sekali di Singapura, sesuatu yang tidak berlaku untuk banyak hidangan lain.
Dua gerai lain patut dicatat karena letaknya. Cabang Jewel Changi Airport berguna bagi penerbangan pagi atau transit panjang, dan cabang Mandai Wildlife East berdiri di area yang tidak memerlukan tiket, sehingga bisa dipakai tanpa masuk ke taman satwa Mandai.
Dari gerobak di Johor Road
Merek ini dimulai pada 1969 sebagai gerobak dorong di Johor Road. Pendirinya, Yeo Eng Song, adalah anak kedua dari sembilan bersaudara dalam keluarga Teochew, mulai belajar bekerja di lapak zichar pada usia 19 tahun, lalu membuka lapaknya sendiri pada usia 21 tahun. Pelanggan awalnya sopir taksi dan keluarga yang makan malam di luar.
1969, gerobak dorong di Johor Road dengan pelanggan sopir taksi.
1975, pindah ke dalam kedai kopi di Victoria Street, di sebelah lokasi yang kini menjadi Raffles Hospital. Logo dan seragam merah muda mulai dipakai.
Sekarang, tiga bersaudara generasi kedua, Diana, Hart Pong, dan Zhi Yong, yang menjalankannya.
Ladanya dipanggang sendiri di gerai, memakai lada Sarawak. Menu resminya mencantumkan 8 jenis sup, 8 jenis masakan kecap, dan 12 lauk pendamping, ditambah 7 jenis teh dan 8 barang ritel seperti lada butiran, lada bubuk, dan paket rempah. Satu hal yang tidak ada di situs resminya adalah harga, jadi angka yang beredar di luar tidak bisa dianggap resmi.
Jaringan ini juga sudah keluar dari Singapura. Selain 16 gerai di dalam negeri, situs resminya mendaftar 16 gerai di Indonesia, 6 di Bangkok, 1 di Shanghai, dan 1 di Taipei. Artinya sebagian pembaca sudah pernah duduk di gerai bermerek sama tanpa pernah menginjak Singapura.
7. Nama besar yang tidak ada dalam daftar
Daftar MICHELIN bukan peta lengkap. Beberapa nama yang paling sering muncul dalam percakapan soal bak kut teh di Singapura justru tidak ada di dalam seleksi 307 tempat itu. Tiga di antaranya perlu disebut karena kemungkinan besar akan tertemu saat mencari sendiri.
Ng Ah Sio
Kedai ini mulai berjalan pada 1955 dan kini dimiliki JUMBO Group. Pada situsnya sendiri, kedai ini menyebut gayanya sebagai gaya Teochew yang harum. Ada 3 gerai di Singapura, yaitu Tai Seng, Rangoon Road, dan Clarke QuayPeta Central, ditambah 2 gerai di Cina.
Untuk gerai Tai Seng, jam bukanya dipublikasikan: pukul 11.00 sampai 22.00 pada Senin sampai Jumat dan pada malam sebelum hari libur, serta pukul 10.00 sampai 22.00 pada Sabtu, Minggu, dan hari libur, dengan pesanan terakhir setengah jam sebelum tutup. Menu tiap gerai diterbitkan sebagai berkas PDF terpisah, tetapi semuanya berupa gambar, sehingga harga tidak bisa dibaca sebagai teks dan tidak bisa dikutip di sini.
Founder
Founder menulis dirinya sudah berjalan lebih dari 40 tahun. Gerai Balestier berada di 347 Balestier Road dan bekerja pukul 11.45 sampai tengah malam, dengan libur setiap Selasa. Gerai Hotel Boss di Jalan Sultan buka setiap hari pukul 11.00 sampai 21.30.
Ada satu ketidakcocokan yang perlu diketahui sebelum berangkat. Halaman daftar gerai di situs resminya hanya memuat dua alamat itu, sedangkan situs pemesanan miliknya sendiri masih memuat gerai Bedok Marketplace. Dua halaman milik pemilik yang sama menulis hal yang berbeda, jadi alamat ketiga itu sebaiknya dipastikan dulu sebelum dijadikan tujuan.
Kai Juan di Balestier
National Heritage Board menyusun jalur jalan kaki Balestier Food Trail yang terdiri atas 11 titik. Dari sebelas titik itu, hanya 1 yang menjual bak kut teh, yaitu Kai Juan Bak Kut TehPeta di 395 Balestier Road. Di jalur yang sama berdiri juga sebuah kedai nasi ayam Hainan yang sudah lama dikenal, sehingga satu jalur pendek itu memuat dua hidangan sekaligus.
Catatan resmi menyebut kedai ini sudah berumur sekitar 50 tahun dengan kuah bening berasa lada, gambaran yang khas untuk gaya Teochew. Halaman resmi yang memuatnya terakhir diperbarui pada Oktober 2020, jadi jam buka yang tertera di sana tidak lagi bisa dianggap berlaku dan tidak dicantumkan di sini.
Selain tiga nama itu, catatan Perpustakaan Nasional menyebut tiga kawasan tempat lapak terkenal berkumpul: kawasan pusat bisnis, Balestier Road, dan GeylangPeta Road. Pola itu menjelaskan kenapa pencarian sendiri akan sering berujung di Balestier meski alamat yang masuk daftar MICHELIN justru menyebar ke barat.
8. Berapa harganya, dan apa yang sebenarnya dicatat
Menjawab pertanyaan harga untuk hidangan ini lebih rumit daripada untuk nasi ayam. Sebagian besar kedai tidak menerbitkan daftar harga dalam bentuk teks, dan badan statistik pun tidak menghitung semangkuknya. Yang bisa dipakai adalah daftar resmi satu merek dan deret harga bahan bakunya.
Daftar harga resmi satu merek
Situs pemesanan Founder memasang harganya secara terbuka. Mangkuk yang memakai nama mereknya sendiri berharga 10,20 dolar Singapura, dan versi iga bagian punggung yang lebih sederhana berharga 7,20 dolar Singapura. Selisih 3 dolar itu berasal dari potongan iga yang dipakai, bukan dari jumlah kuahnya.
| Menu | Harga (dolar Singapura) |
|---|---|
| Iga bagian punggung | 7,20 |
| Bak kut teh versi populer | 8,20 |
| Irisan daging tanpa lemak | 8,10 |
| Jeroan satuan (hati, babat, usus, campur, ekor) | 8,10 per porsi |
| Iga pendek premium | 10,20 |
| Bak kut teh bernama merek | 10,20 |
| Bak kut teh klasik | 12,10 |
| Versi populer dalam pot tanah | 13,20 |
| Usus besar masak kecap | 13,10 |
| Rumput laut | 4,30 |
| Jamur | 5,30 |
| Selada atau caisim | 5,80 |
| Tang o | 6,80 |
Yang perlu diperhatikan dari daftar itu adalah cara tagihan bertambah. Lauk sayur mulai dari 4,30 dolar Singapura per porsi, dan satu piring jeroan berharga 8,10 dolar Singapura, hampir sama dengan mangkuk utama yang paling murah. Dua orang yang memesan satu mangkuk masing-masing lalu menambah dua lauk akan sampai di angka yang jauh berbeda dari bayangan awal, dan pola serupa berlaku untuk hampir semua pos makan dalam perhitungan biaya perjalanan ke Singapura.
Badan statistik mencatat tulangnya, bukan mangkuknya
Keranjang survei harga eceran tahunan Singapura memuat 78 jenis barang. Sembilan belas di antaranya berupa makanan dan minuman siap saji yang dihitung per piring, per mangkuk, per potong, atau per cangkir. Bak kut teh tidak termasuk di dalamnya.
Yang masuk justru tetangga-tetangganya di pusat jajan: nasi ayam, char kway teow, nasi char siew, nasi bebek, nasi briyani ayam, nasi campur, mi pangsit, mi bakso ikan, bee hoon ikan, mee rebus, mee siam, kue lobak goreng, roti prata, dan ais kacang, ditambah kopi, teh, dan Milo. Untuk bak kut teh, yang dihitung adalah bahan bakunya, yaitu tulang iga babi dalam satuan kilogram untuk yang didinginkan dan satuan 500 gram untuk yang dibekukan.
Tulang iga lebih mahal daripada daging tanpa lemak
Deret angkanya memuat satu hal yang berlawanan dengan dugaan umum. Pada setiap tahun yang tercatat, harga tulang iga per kilogram berada di atas harga daging babi tanpa lemak per kilogram. Bagian yang secara tradisional dianggap sisa justru dihargai lebih tinggi daripada bagian yang dianggap utama, dan itu terjadi konsisten selama 11 tahun pencatatan.
| Tahun | Tulang iga, didinginkan (per kg) | Daging tanpa lemak, didinginkan (per kg) |
|---|---|---|
| 2015 | 16,72 | 13,32 |
| 2019 | 16,91 | 13,97 |
| 2021 | 18,03 | 15,31 |
| 2022 | 19,34 | 15,95 |
| 2023 | 20,28 | 16,51 |
Di dalam rentang itu kenaikannya jelas. Tulang iga naik dari 16,72 dolar Singapura pada 2015 menjadi 20,28 dolar Singapura pada 2023, sementara nasi ayam sepiring di keranjang yang sama bergerak dari 3,21 menjadi 4,15 dolar Singapura. Karena kuah hidangan ini seluruhnya bergantung pada bahan yang naik itu, tekanan biayanya jatuh langsung ke panci.
9. Yang datang bersama mangkuknya
Memesan satu mangkuk saja sebenarnya bisa, tetapi jarang begitu yang terjadi di meja. Perpustakaan Nasional Singapura mendaftar pendamping yang sudah menempel pada hidangan ini sejak lama: nasi putih, you tiao, jeroan, sayur asin, dan kulit tahu masak kecap. Susunan itu yang membuat semangkuk sup berubah menjadi satu meja penuh.
You tiao dan nasi putih
You tiao adalah roti goreng panjang yang dipotong pendek dan disajikan dalam mangkuk terpisah. Fungsinya sederhana: potongannya dicelupkan ke kuah sampai menyerap, lalu dimakan sebelum terlalu lembek. Karena kuahnya asin dan berlada, roti yang tawar itu bekerja sebagai penyeimbang.
Nasi putih hampir selalu datang dalam mangkuk sendiri, bukan di bawah kuah. Sebagian orang menuang sedikit kuah ke atas nasi, sebagian lagi memakannya berselang-seling dengan sup. Tidak ada aturan baku soal itu, dan kedai tidak memperlakukannya sebagai kesalahan.
Cocolan kecap dan cabai
Iga yang sudah diangkat dari kuah biasanya dicelup ke piring kecil berisi kecap asin. Ke dalam kecap itu bisa ditambahkan irisan cabai, cincangan bawang putih, atau cabai padi, tergantung apa yang tersedia di meja. Catatan inspektur untuk Joo Siah menyebut iga yang lunak berpasangan baik dengan kecap cabai, jadi kombinasi itu bukan improvisasi pengunjung.
Piring bersekat tiga berisi tahu kecap, kacang tanah, dan telur rebus yang dibelah dua, ditemani sepiring kecil irisan cabai merah, adalah susunan lauk yang biasa mengiringi mangkuk utama. Lauk kecil semacam itu yang menambah tagihan, bukan mangkuk utamanya.
Jeroan dan tambahan kuah
Jeroan dijual sebagai menu tersendiri. Catatan inspektur untuk Leon Kee menyebut sup ekor babi, ayam minyak wijen, dan hati babi dalam pot tanah sebagai pilihan di luar sup iga. Catatan untuk Hua Xing menyebut nasi, jeroan babi, kaki babi, atau sup sayur sebagai tambahan yang membuat satu pesanan menjadi porsi makan penuh.
Soal menambah kuah, sebaiknya ditanyakan di tempat. Daftar harga daring Founder tidak memuat baris untuk tambahan kuah, dan kedai lain umumnya tidak menerbitkan daftar harganya sama sekali, sehingga tidak ada dasar resmi untuk mengatakan bahwa tambahan itu gratis di mana-mana.
Kalau tujuannya mencicipi beberapa hidangan sekaligus dalam satu perjalanan, mangkuk ini duduk di kelompok yang berbeda dari kepiting saus cabai dan makanan laut. Yang satu dimakan cepat dengan harga satuan kecil, yang satu lagi dipesan per ekor untuk dibagi bersama dan menuntut anggaran serta waktu yang lain.

10. Soal tehnya
Karena namanya menyebut teh, ada baiknya menutup lingkaran itu. Teh yang dimaksud adalah teh Cina yang diminum bersama mangkuknya, dan di Singapura ada sejarah dagang yang menempel langsung pada kebiasaan tersebut.
Toko teh yang meracik pasangannya
Terbitan BiblioAsia edisi Juli sampai September 2026 mencatat dua toko teh keturunan Fujian yang berdiri pada dekade 1920-an dan masih berjualan sampai sekarang, yaitu Pek Sin ChoonPeta dan Guan Chong Bee. Pek Sin Choon adalah pihak yang mengembangkan teh khusus untuk dipasangkan dengan bak kut teh, sehingga hubungan antara toko teh dan kedai sup di kota ini bukan kebetulan.
Teh bernama Bu Zhi Xiang dipasok secara eksklusif oleh toko itu. Nama yang sama muncul di daftar teh Song Fa, yang mencantumkan 7 pilihan termasuk Tie Guanyin, oolong osmanthus, dan puer tua. Jadi pengunjung yang memesan teh di meja sebenarnya sedang menyentuh rantai pasok yang berumur hampir seabad.
Kertas pembungkus merah muda
Ada detail yang bertahan dari masa perang. Pada masa pendudukan Jepang, pasokan kertas pembungkus habis, sehingga toko teh mengambil kertas dari toko obat Cina, dan warnanya merah muda. Kebiasaan itu tidak dilepas setelah perang berakhir, dan pembungkus merah muda tetap dipakai sampai sekarang.
Pembungkusannya pun masih dikerjakan dengan tangan di dalam toko. Bagi pembaca yang mengumpulkan oleh-oleh yang tidak mudah rusak di koper, teh dalam bungkus kertas semacam itu termasuk pilihan yang ringan dan tahan perjalanan.
Secangkir gratis dari daun mutu rendah
Ada sisi lain dari sejarah ini yang jarang diceritakan. Menurut catatan yang sama, teh yang dahulu disuguhkan bersama bak kut teh dibuat dari daun bermutu rendah dan diberikan gratis kepada pelanggan. Artinya teh di meja pada mulanya adalah pelengkap murah yang sudah termasuk dalam harga semangkuk sup.
Perubahannya baru datang ketika teh yang dirancang khusus untuk pasangan itu masuk ke meja. Sejak saat itu teh berpindah posisi dari pelengkap gratis menjadi barang yang punya nama, pemasok, dan harganya sendiri.
11. Versi tanpa babi dan soal halal
Hal pertama yang perlu ditulis lugas adalah ini. Enam alamat yang masuk seleksi MICHELIN semuanya menyajikan babi, jadi tidak ada satu pun di antaranya yang bisa dipakai pembaca yang menjaga konsumsi halal. Itu fakta yang perlu diketahui lebih dulu, sebelum membahas apa yang tetap mungkin.
Versi kambing, sapi, dan burung unta
Catatan Perpustakaan Nasional Singapura mendaftar varian yang tidak memakai babi: daging kambing, daging sapi, dan daging burung unta. Varian itu muncul karena dua hal menurut catatan yang sama, yaitu untuk melayani pelanggan Muslim, dan setelah wabah virus Nipah pada akhir dekade 1990-an yang memukul peternakan babi di kawasan ini.
Yang tidak bisa dipastikan dari catatan itu adalah siapa yang menjualnya hari ini dan apakah tempatnya bersertifikat. Sertifikasi adalah urusan per gerai dan bisa berubah, jadi satu-satunya cara yang aman adalah memeriksa sertifikat yang dipajang di tempatnya, bukan mengandalkan nama hidangannya. Panduan untuk wisatawan Muslim di Singapura memuat cara memeriksa itu bersama daftar kawasan makan yang lebih luas.
Penanda non-halal di pusat jajan
Di dalam pusat jajan, pemisahan dilakukan secara terlihat. Di Alexandra Village Food Centre, misalnya, papan pengembalian nampan bertuliskan titik non-halal berdiri di tengah ruang makan, di antara meja panjang bersama dengan bangku bundar yang menyatu dengan mejanya.
Penanda semacam itu berguna untuk dua hal sekaligus. Pertama, menunjukkan sisi mana yang memakai peralatan non-halal sehingga pengunjung bisa memilih jalur yang sesuai. Kedua, mengingatkan bahwa dalam satu gedung yang sama bisa berdiri kios halal dan kios non-halal berdampingan, sehingga papan dan sertifikat di tiap kios lebih bisa diandalkan daripada dugaan atas nama gedungnya.
Satu hal lagi yang perlu dicatat soal pendampingnya. Lauk yang biasa datang bersama mangkuk ini, mulai dari jeroan sampai kaki babi masak kecap, berasal dari bahan yang sama, jadi memesan lauk tanpa memesan supnya tidak mengubah apa pun. Pemisahannya ada pada kios, bukan pada satu menu di dalam kios yang sama.

12. Bak kut teh kering
Selain versi berkuah, ada versi kering yang jauh lebih jarang ditemui wisatawan. Namanya memakai aksara yang berarti kering, dan di Singapura versi itu muncul sebagai satu baris menu di kedai tertentu, bukan sebagai hidangan yang berdiri sendiri di mana-mana.
Satu baris di menu resmi
Situs pemesanan Founder memuat versi kering dalam pot tanah sebagai satu set seharga 14,19 dolar Singapura. Angka itu berada di atas mangkuk berkuah bernama merek yang sama, yang dipasang 10,20 dolar Singapura. Selisihnya menunjukkan versi kering diposisikan sebagai hidangan yang lebih besar, bukan sebagai pilihan hemat.
Karena isinya tidak dirinci di daftar harga resmi, apa saja yang masuk ke dalam pot itu sebaiknya ditanyakan di tempat. Menebak isinya dari nama saja bisa meleset, dan tidak ada sumber resmi yang merincinya dalam bentuk teks.
Pot tanah yang jadi nama kedai
Pot tanah bukan hanya wadah untuk versi kering. Dari 6 nama dalam daftar MICHELIN, 3 di antaranya memakai kata claypot pada namanya sendiri, yaitu Sin Heng, Yong Kee, dan Leon Kee. Artinya cara memasak dan menyajikan dalam pot tanah cukup penting sampai dijadikan bagian dari nama usaha.
Catatan inspektur untuk Yong Kee menyebut sup iga yang datang dalam pot tanah bersama pelengkap seperti butiran lada. Catatan untuk Leon Kee menyebut hati babi dalam pot tanah sebagai salah satu pilihan di luar sup. Keenam alamat dalam daftar itu tercatat karena versi berkuahnya, jadi pembaca yang mengincar versi kering perlu mencarinya di luar daftar tersebut.
13. Perdebatan asal-usul dengan Malaysia
Hidangan ini dimasak di kedua sisi Selat Johor, dan pertanyaan siapa yang lebih dulu sempat menjadi urusan pejabat. Yang bisa dipastikan hanya isi catatan resmi, bukan siapa yang benar dalam perdebatan itu.
Pernyataan tahun 2009
Pada September 2009, Menteri Pariwisata Malaysia saat itu, Ng Yen Yen, menyatakan bahwa bak kut teh adalah makanan Malaysia yang diciptakan seorang tabib Cina di Klang pada dekade 1930-an. Pernyataan itu muncul dalam rangkaian klaim atas beberapa hidangan sekaligus dan memancing reaksi luas di kawasan ini.
Perpustakaan Nasional Singapura mencatat klaim tersebut apa adanya, dan menambahkan satu kalimat penilaian: klaim itu belum terbukti. Jadi yang tersedia hari ini hanya satu catatan resmi bahwa bukti pendukungnya belum ada.
Catatan yang ada di sisi lain
Versi asal-usul yang dicatat Perpustakaan Nasional menempatkan akarnya lebih jauh ke belakang dan lebih jauh ke utara, yaitu di Provinsi Fujian di Cina. Perantau Hokkien membawanya ke kawasan ini pada abad ke-19, dan hidangan itu menyebar sebagai sarapan para kuli yang butuh makanan panas dan murah sebelum bekerja.
Kisah yang ditulis Ng Ah Sio di situsnya sendiri berjalan searah dengan itu dalam skala kota: kuli yang bekerja di gudang tepi Sungai Singapura tidak punya uang untuk membeli daging, sehingga mereka merebus tulang babi yang tersisa menjadi kuah. Dua versi ini tidak saling meniadakan, karena satu berbicara tentang perpindahan resep antarwilayah dan satu lagi tentang siapa yang memakannya di pelabuhan.
Untuk pembaca yang datang sebagai pengunjung, perdebatan itu tidak mengubah apa yang ada di meja. Yang berubah hanya cara membaca papan nama: kedai yang menulis gaya Teochew, gaya Hokkien, atau menyebut Klang sedang menunjuk garis sejarah yang berbeda-beda.
14. Kapan datang, dan kapan pintunya tertutup
Bagian paling mudah diabaikan saat menyusun rencana adalah hari tutup. Untuk hidangan ini persoalannya berlipat, karena sebagian alamatnya berada di dalam gedung pusat jajan yang ditutup seluruhnya untuk pembersihan berkala, terlepas dari jadwal kiosnya sendiri.
Penutupan pembersihan per triwulan
Badan lingkungan nasional menerbitkan jadwal pembersihan untuk 123 gedung pusat jajan, dan tiga gedung yang memuat alamat dalam daftar MICHELIN ada di dalamnya. Jadwalnya disusun per triwulan dan selalu dimulai pada hari Senin, tetapi panjangnya tidak seragam.
| Gedung | Triwulan 1 | Triwulan 2 | Triwulan 3 | Triwulan 4 |
|---|---|---|---|---|
| Yuhua Market and Hawker Centre | 9 sampai 10 Maret | 8 sampai 11 Juni | 14 sampai 15 September | 14 sampai 15 Desember |
| Taman Jurong Market and Food Centre | 9 sampai 10 Maret | 1 sampai 2 Juni | 31 Agustus sampai 2 September | 30 November sampai 1 Desember |
| Alexandra Village Food Centre | 2 Maret | 22 Juni | 14 September | 21 Desember |
Polanya berbeda untuk tiap gedung. Alexandra Village hanya tutup satu hari Senin pada setiap triwulan, jadi dampaknya paling kecil. Yuhua tutup dua hari pada tiga triwulan, tetapi pada triwulan kedua penutupannya berjalan empat hari dari Senin sampai Kamis. Taman Jurong tutup dua hari pada sebagian besar triwulan dan tiga hari pada triwulan ketiga, dari Senin sampai Rabu.
Akhir tahun perlu diperiksa satu per satu
Pada triwulan keempat, tanggal ketiga gedung itu berbeda semua, yaitu akhir November untuk satu gedung dan dua tanggal berlainan pada pertengahan serta akhir Desember untuk dua gedung lain. Artinya satu tanggal yang aman untuk satu alamat belum tentu aman untuk alamat lain di daftar yang sama. Pembaca yang berangkat menjelang akhir tahun sebaiknya memeriksa tanggalnya bersama hal lain yang khas Singapura pada bulan Desember.
Jadwal seperti ini diterbitkan per tahun, jadi tanggal di atas mengikuti daftar yang berlaku sekarang dan bisa bergeser pada tahun berikutnya. Cara memeriksanya sama dengan memeriksa kios lain di pusat jajan: lihat daftar resmi gedungnya, bukan papan kiosnya.
Hari libur mingguan dan jam yang tidak dipublikasikan
Di luar penutupan gedung, ada libur mingguan masing-masing kedai. Gerai Balestier milik Founder tutup setiap Selasa, sementara gerainya di Jalan Sultan buka setiap hari. Kios Hua Xing tutup setiap Senin, dan Joo Siah tercatat tutup lebih awal pada hari Minggu.
Untuk empat alamat lain dalam daftar MICHELIN, jam buka tidak dimuat di sumber resmi yang bisa diperiksa. Menebaknya sendiri berisiko, apalagi untuk kios pasar yang biasanya berhenti pada sore hari. Dua gerai Song Fa yang jamnya terbuka, yaitu New Bridge Road dan Jewel Changi Airport, adalah pilihan paling aman bagi pembaca yang tidak ingin mengambil risiko jadwal.
15. Menaruhnya dalam rencana perjalanan
Semangkuk sup jarang layak menggeser seluruh jadwal hari. Yang masuk akal adalah menempelkannya pada hal lain yang sudah ada di rencana, dan untuk hidangan ini ada empat cara menempel yang paling sering berhasil.
Pagi di Chinatown. Gerai New Bridge Road buka pukul 09.30 setiap hari, cukup awal untuk dimakan sebelum jalan kaki dimulai.
Sore di Joo Chiat. Sin Heng berada di deretan rumah toko, bisa digabung dengan setengah hari di kawasan timur.
Hari ke barat. Kios Jurong bekerja pada jam pagi sampai siang, jadi perjalanan ke sana perlu dipasang sebagai acara pagi.
Hari terakhir di bandara. Gerai Jewel buka pukul 09.00 setiap hari, berguna untuk penerbangan pagi atau transit panjang.
Untuk yang berangkat sendirian
Hidangan ini termasuk yang paling ramah untuk satu orang. Satu porsinya memang disusun untuk satu mangkuk, tidak ada alamat dalam daftar yang menerima pemesanan tempat, dan meja bersama di pusat jajan membuat duduk sendirian tidak terasa janggal. Hal itu berbeda dari hidangan yang dipesan per ekor untuk dibagi bersama, yang sulit dipesan sendirian tanpa berlebihan, dan pola semacam ini yang membentuk banyak keputusan makan saat bepergian sendirian di Singapura.
Untuk yang membawa orang tua
Ada dua sisi yang perlu ditimbang. Sisi baiknya, kuah panas dan iga yang lunak termasuk makanan yang mudah dimakan, dan catatan inspektur untuk Joo Siah secara khusus menyebut iga yang lunak. Sisi yang perlu dipikirkan adalah tempat duduknya: di pusat jajan, bangku bundar sering menyatu dengan meja dan tidak bisa digeser, seperti yang terlihat pada foto Alexandra Village, sehingga kursi bersandar jarang tersedia. Pertimbangan semacam itu dibahas lebih panjang dalam panduan bepergian bersama orang tua.
Menyusun urutan makan dalam satu perjalanan
Kalau waktu makan terbatas, urutan biasanya ditentukan oleh jarak, bukan oleh peringkat. Nasi ayam dan bak kut teh sama-sama bisa dimakan cepat dan murah, sedangkan hidangan laut menuntut satu slot makan malam penuh. Pembaca yang ingin mengejar beberapa nama sekaligus bisa memakai daftar kedai Bib Gourmand sebagai kerangka, lalu memasukkan satu mangkuk ini pada pagi hari ketika pilihan lain belum buka, sesuatu yang berguna saat merencanakan jam-jam paling awal di Singapura.
Satu catatan tentang oleh-oleh. Paket rempah bak kut teh dijual sebagai barang ritel, termasuk paket berisi enam yang dipasang Founder pada 20 dolar Singapura, dan catatan Perpustakaan Nasional menyebut rempah pracampur semacam itu memang beredar di pasaran. Barang itu ringan, tidak mudah rusak, dan lebih bisa dibawa pulang daripada ingatan atas rasanya.
16. Bedanya dengan yang dimakan di Jakarta
Sebagian pembaca sudah pernah makan bak kut teh tanpa meninggalkan Indonesia. Situs resmi Song Fa mendaftar 16 gerai di Indonesia, dan Founder mendaftar satu gerai di Jakarta. Jadi pertanyaan yang lebih berguna untuk mereka adalah apa yang berbeda kalau memakannya di Singapura.
Penghargaan itu melekat pada satu alamat, bukan pada mereknya
Ini titik yang paling sering salah dipahami. Bib Gourmand 2026 tercatat untuk gerai Song Fa di New Bridge Road, bukan untuk merek Song Fa. Lima belas gerai lain di Singapura, yang seragam, menu, dan ladanya sama, tidak muncul dalam seleksi itu, apalagi gerai di luar negeri.
Konsekuensinya praktis. Pembaca yang sudah pernah makan di gerai merek yang sama di kota sendiri tetap belum menyentuh alamat yang masuk daftar, dan alamat itu hanya satu, di satu jalan, dengan jam buka yang khusus.
Pilihan yang tidak bisa diwakili satu merek
Perbedaan terbesar terletak pada jumlah pintu yang terbuka dalam satu kota. Di Singapura, kuah bening berlada dan kuah rempah obat berdiri berdampingan dalam satu daftar yang sama: Joo Siah dan Hua Xing tercatat untuk kuah berlada, sedangkan Leon Kee dan Yong Kee tercatat untuk versi rempah obat. Membandingkan keduanya dalam satu perjalanan adalah hal yang tidak bisa dikerjakan lewat satu merek.
Bentuk tempatnya juga berbeda. Empat dari enam alamat itu berupa kios di dalam pasar atau pusat jajan dan diberi kisaran harga paling rendah, sehingga situasi makannya berisi meja bersama, nampan, dan antrean di dalam gedung pasar. Bagi yang selama ini hanya mengenal versi pusat perbelanjaan, perbedaan itu terasa sejak sebelum sendok pertama.
Hal-hal kecil yang hanya ada di sana
Beberapa hal tidak ikut berpindah bersama merek. Teh Bu Zhi Xiang dipasok eksklusif oleh toko teh yang berdiri sejak dekade 1920-an dan masih membungkus dagangannya dengan tangan. Jeroan seperti sup ekor babi dan hati babi dalam pot tanah muncul sebagai menu tercatat pada kedai yang masuk daftar. Jam pagi pun berbeda, karena hanya 2 dari 16 gerai Song Fa di Singapura yang buka sebelum pukul 10.00, sementara kios pasar justru berhenti bekerja pada pukul 14.00.
Yang tidak berubah adalah bahan dasarnya. Babi tetap babi di kedua negara, jadi keputusan pembaca Muslim tidak bergeser hanya karena tempatnya berpindah. Sisanya, mulai dari susunan rencana harian sampai perkiraan biaya makan, lebih mudah disusun bersama panduan persiapan perjalanan ke Singapura dan perhitungan biaya harian daripada diputuskan di depan pintu kedai.
🎡Wisata & Aktivitas53
🍜Kuliner5
🏨Penginapan10
🚇Transportasi4
🧭Tips Perjalanan20
Pertanyaan yang sering diajukan
Sup iga babi yang direbus lama bersama bawang putih dan rempah. Namanya berasal dari dialek Hokkien, dan aksara 肉骨茶 kalau dibaca satu per satu berarti daging, tulang, teh.
Satu porsi dasarnya berupa mangkuk kecil berisi kuah dan beberapa potong iga, dimakan bersama nasi putih yang disajikan terpisah. Catatan Perpustakaan Nasional Singapura menempatkan asalnya di Provinsi Fujian, dibawa perantau Hokkien pada abad ke-19 dan menyebar sebagai sarapan kuli pelabuhan.
Tidak ada. National Heritage Board menulis secara resmi bahwa kata teh pada namanya menunjuk teh Cina yang diminum bersama hidangannya, bukan bahan di dalam panci.
Kebiasaan meminum teh saat makan hidangan ini punya alasan turun-temurun: teh dianggap meluruhkan minyak dan lemak dari kuah yang berlemak. Toko teh Pek Sin Choon bahkan meracik teh khusus untuk pasangan itu.
Ya, bahan dasarnya tulang iga babi. Lauk pendampingnya juga sering berupa jeroan babi seperti hati, babat, usus, dan kaki yang dimasak kecap.
Enam alamat yang masuk seleksi MICHELIN Guide Singapore 2026 semuanya menyajikan babi. Karena itu tidak ada satu pun di antaranya yang bisa dipakai pembaca yang menjaga konsumsi halal.
Catatan Perpustakaan Nasional mencatat adanya versi tanpa babi, tetapi status sertifikat halal harus diperiksa satu per satu di tempatnya. Versi yang dicatat memakai daging kambing, sapi, dan burung unta.
Munculnya versi itu punya dua sebab menurut catatan yang sama: melayani pelanggan Muslim, dan wabah virus Nipah pada akhir dekade 1990-an. Di pusat jajan, sisi non-halal ditandai antara lain lewat titik pengembalian nampan yang dipisahkan dan diberi papan.
Tiga gaya tradisional: Hokkien, Kanton, dan Teochew. Perbedaan paling cepat terlihat ada pada warna kuahnya.
Gaya Hokkien pekat dan keruh karena memakai kecap asin pekat dan gula batu. Gaya Kanton memakai rempah obat paling banyak dan tidak seasin Hokkien. Gaya Teochew bening, dibumbui bawang putih, kecap, dan lada saja.
Enam nama, tiga di antaranya Bib Gourmand. Bib Gourmand jatuh pada Song Fa cabang New Bridge Road, Sin Heng Claypot Bak Koot Teh, dan Joo Siah Bak Koot Teh.
Tiga sisanya masuk kategori Selected: Hua Xing Bak Kut Teh, Yong Kee Claypot Bak Kut Teh, dan Leon Kee Claypot Pork Rib Soup. Seleksi itu memuat 307 tempat secara keseluruhan.
Tidak ada, satu pun tidak. Enam alamat yang tercatat berhenti di Bib Gourmand dan Selected.
Empat dari enam alamat itu bahkan diklasifikasikan sebagai Street Food, dan berada di dalam pasar atau pusat jajan, bukan di ruang makan berpendingin.
Situs pesanan daring Founder memasang mangkuk andalannya pada 10,20 dolar Singapura. Versi iga bagian punggung yang lebih murah tercatat 7,20 dolar Singapura.
Lima dari enam alamat dalam daftar MICHELIN diberi tanda kisaran harga paling rendah, satu tanda dolar. Hanya Sin Heng di Joo Chiat Road yang diberi dua tanda dolar.
Song Fa di 11 New Bridge Road dan Sin Heng di 439 Joo Chiat Road. Keduanya satu-satunya alamat dalam daftar yang tidak menuntut perjalanan ke sisi barat kota.
New Bridge Road adalah jalan besar yang melewati kawasan Chinatown, sedangkan Joo Chiat Road berada di kawasan rumah toko tua di sisi timur. Tiga alamat lain berada di Jurong dan satu lagi di Bukit Merah.
Mereknya sama, tetapi penghargaan MICHELIN hanya melekat pada satu alamat. Bib Gourmand 2026 tercatat untuk cabang New Bridge Road, bukan untuk merek Song Fa secara keseluruhan.
Situs resmi Song Fa mendaftar 16 gerai di Singapura dan 16 gerai di Indonesia. Lima belas gerai Singapura yang lain tidak muncul dalam seleksi MICHELIN, sama seperti gerai di luar negeri.
Tidak ada satu pun dari enam alamat itu yang menerima pemesanan tempat. Semuanya dicatat sebagai tidak menerima reservasi.
Nomor telepon pun hanya tercantum untuk dua di antaranya, yaitu Song Fa dan Sin Heng. Untuk empat alamat lain tidak ada nomor yang dipublikasikan, jadi rencana datang harus disusun dengan asumsi antre.
Ada, tetapi sedikit. Dari 16 gerai Song Fa di Singapura, hanya cabang Jewel Changi Airport dan cabang New Bridge Road yang membuka pintu sebelum pukul 10.00.
Kios Hua Xing di Yuhua Market and Hawker Centre justru bekerja pada jam pagi sampai siang, yaitu pukul 08.30 sampai 14.00, dan tutup setiap Senin. Kios itu satu-satunya dari enam yang jam bukanya dimuat MICHELIN.
Susun dulu rangka perjalanannya di panduan persiapan ke Singapura